Selasa, 07 Juni 2011

Pendaftaran Djarum Beasiswa Plus

 
“Sejak 1984, ribuan mahasiswa menerima Beasiswa dan Program Pengembangan Karakter dari Djarum. Djarum percaya, pendidikan yang baik adalah bekal dalam mewujudkan bangsa yang kokoh, sejahtera dan bermartabat.”
 
 Persyaratan menjadi penerima program Djarum Beasiswa Plus
  1. UMUM :
    • Pria atau wanita.
    • Sedang menempuh Tingkat Pendidikan S1 (Strata 1).
    • Prestasi Akademik dengan IPK diatas 3.00, telah menyelesaikan 4 semester.
    • Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di Kampus.
    • Tidak sedang menerima beasiswa dari pihak lain.
  2. ADMINISTRASI :
    • Mahasiswa mengajukan surat permohonan beasiswa kepada perguruan tinggi melalui Direktur Administrasi Kemahasiswaan atau Pembantu Rektor III .
    • Fotocopy Kartu Hasil Studi Semester 4 (empat).
    • Fotocopy sertifikat kegiatan organisasi/surat keterangan aktif berorganisasi.
    • Surat keterangan dari kampus tidak sedang menerima beasiswa dari pihak lain.
    • Fotocopy KTP.
    • Satu lembar foto ukuran 4 x 6 cm berwarna memakai jas almamater.
  3. TES SELEKSI :
    • Mengikuti psikotes.
    • Wawancara.
    • Membuat tulisan singkat.
 



Kegiatan Outbond Beswan Djarum, Cikole, Bandung dan Leadership & Innovation Training, Malang
 
 
Malam puncak penerimaan Beswan Djarum 2009, memadukan segenap potensi Beswan Djarum dari berbagai daerah


Nostalgia seorang Mahasiswi & beasiswa


             aihh, dua tahun sudah berstatus menjadi alumni beswan djarum tapi, merupakan pengalaman luar biasa menjadi bagian dari sebuah komunitas besar keluarga beswan djarum. tidak hanya Bandung. dari aceh hingga papua semuanya berkesempatan mendapatkan beasiswa ini. Sekedar nostalgia, dimulai dari pengumuman mading kampus, terpampang pengumuman BEASISWA. mencoba memberanikan diri untuk mendaftarkan diri, Begitu lama dan panjang penantian, akhirnya mendapat sebuah telepon untuk mengikuti seleksi gelombang 1, wah ini yakin ga yakin, jangan-jangan ini kawan-kawan yang menjaili saya. hehheu... :)
Penuh harap dan doa saya mengikuti seleksi berikutnya, dan akhirnya dari kawan se-universitas di UPI tempat saya berkuliah, 10 orang dapat menjadi Beswan djarum, akhirnya kita berkumpul di Batununggal untuk welcoming party bagi young beswan bertemu kawan lainnya dari kampus dan institut lain di untuk regional Bandung, dan keindahan menjadi beswan pun dimulai, sebuah konsep beasiswa yang pada saat itu tidak hanya memberikan suntikan dana untuk para mahasiswa tetapi pelatihan-pelatihan softskill, yang tentunya setelah dua tahun menjadi alumni, training dan workshop itu menjadi bekal yang sangat bermanfaat. kemudian malam silatnas di semarang langsung bertemu dengan para 600 beswan dari seluruh nusantara, disana pembekalan langsung dilatih koreografer Ari Tulang dan team Wow.. kemudian Dare to be a leader @ Tirta Sanita resort kuningan oleh Bapa marthen Sumual dengan Top concept nya (edward de Bono) Wew.. and achievtment motivation and training,,, dan yang lainnya.. banyak lagi... (sampai kita berpikir jadi beswan ilmu oke update terus, perut kenyang makan terus, dompet penuh isi terus, jalan-jalan terus) tapi tentu kita juga tetap berbagi ilmu dan rezeki di panti asuhan anak shaleh, melalui best one in one soul..
6015_1098192306145_1566777710_30269781_4353959_n  
ini foto pas kunjungan ke kudus, Wisma atlet bulutangsing Djarum Bakti Olahraga

Hubungan persaudaraan sesama beswan pun Insyaallah tetap terjaga, saling kontak silaturahim, info lowongan kerja, info beasiswa untuk lanjut study S2, share ilmu, ini bukan hanya teman tapi keluarga baru yang tak akan pernah putus.. terimakasih Tuhan atas anugerah dan kesempatan indah ini...


Karya Tulis Beswan Djarum

               Ini salah satu kegiatan yang bersejarah sekaligus memegangkan ketika harus presentasi di depan para guru besar dan profesor- dari berbagai Universitas dan Institut negeri dan swasta di Terkemuka di Indonesia... mending ga usah tau latar belakang para juri nya deh, bikin perut melilit. Salah satu kenikmatan dan kebanggan tentunya menjadi penerima beasiswa dari PT djarum, sebuah perusahaan yang komit dengan kegiatan CSR salah satunya bidang pendidikan.
               Ilmu dan pengalaman ini ingin kubagi untuk anak didikku..  semoga menjadi 3 golongan yang tak putus.. yaitu ilmu yang bermanfaat... disini terlihat, sains, culture, psikologi, tehnology, merupakan disiplin ilmu yang memiliki kekuatan, kemenarikan, dan keilmuan yang khas dan semuanya PENTING untuk dikaji dan dipelajari..
http://www.djarumbeasiswaplus.org/getcontent.php?page=berita&number=11&id=38


Lomba Karya Tulis Beswan Djarum 2008/2009 Memasuki Tahap Final Regional
 

Salah satu peserta tengah mempresentasikan karya
Menutup rangkaian kegiatan dalam Beasiswa Djarum 2008/2009,  mulai bulan Juli hingga Oktober 2009 diselenggarakan Lomba Karya Tulis Beswan Djarum (LKT). Lomba yang terbuka untuk semua Beswan Djarum Tahun angkatan 2008/2009 ini mengangkat tema  “Masa Depan Ke Indonesiaan”.  Minggu ketiga di bulan Agustus ini, LKT telah memasuki tahap final Regional. Final regional mempertemukan 10 karya terbaik yang masuk dari tiap regional. Sepuluh karya terbaik ini akan saling berkompetisi untuk menjadi 3 wakil yang lolos masuk ke grand final LKT yang direncanakan akan digelar pada 15-16 Oktober 2009 di Jakarta.
Tercatat lebih dari 150 karya masuk ke meja panitia dari seluruh nusantara. Karya yang beragam ini telah melewati seleksi secara seksama sebelum akhirnya diputuskan layak untuk dipresentasikan didepan dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi.
Berikut ini adalah peserta dan karya tulis yang masuk dalam final regional; 

Regional Bandung:
  • Ali Hasyemi Rafsanjani (Univ. Padjajaran), Upaya Menekan Deforestasi melalui Pemanfaatan Serat Limbah Pengeolahan Rumput Laut (Gracilaria gigas) Sebagai Bahan Pembaut Kertas
  • ILham Febby Juanda (Univ. Pendidikan Indonesia), Ptensi Rhizobakteria Sebagai Agen Biofungisida untuk Pengendalian Jamur Fitopatogen fusarium sp.
  • Irma Juwita Lestari (Univ. Jend Achmad Yani), Pemanfaatan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) Sebagai Alternatif Terapi Penyakit Kanker
  • Maulana Karnawidjaja Wahyu (Univ. Padjajaran), Pemanfaatan Pati Singkong Sebagai Bahan Baku Edible Film
  • Sidiq Aulia Rahman (Univ. Islam Nusantara), Penerapan Makna Religi dalam Pembelajaran, Inovasi Dunia Pendidikan
  • Baraputra Christian Octavianus (Univ. Maranatha), Glow: Sebuah Lembaga Alternatif Pembiayaan Kredit Usaha Mikro dan Usaha Kecil
  • Desy Mardianty (Itenas), Optimalisasi Pemberdayaan UKM Sebagai wujud Kemandirian Ekonomi dalam Mengahadapi Globalisasi Ekonomi Melalui Pemanfaatan Metode Pendekatan Co-Management
  • Melati Hidayanti (Univ, Islam Bandung), Potensi Penggunaan Minyak Jelantah Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Sabun Transparan yang Mengandung Madu
  • Rian Andrian (Univ, Islam Negeri), Knowledge Management Sharing sebagai Alat Bantu Pendidikan di Indonesia: Upaya Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia dengan Ilmu Pengetahuan.
  • Novera Yuliana (Univ. Pendidikan Indonesia), Sistem Pemberian Nama Tempat (Topomini) di Kabupaten Tangerang; Sebuah Kajian Pelestarian Folklor Sunda
Regional Jakarta:
  • Windy Al Zahra (IPB), Super Karbon Berbahan Dasar Limbah Pertanian Sebagai usaha Budidaya Energi Hijau Di Indonesia.
  • Pratiwi Eka Puspita (IPB), Prospek Pengembangan Minyak Atsiri (Essential Oil) Tembakau Dalam Industri Pangan, Obat - Obatan Dan Kosmetika.
  • Nanda Nurisman (Univ. Sriwijaya), Potensi Mikroalga Sebagai Biodiesel Dan Agen Pereduksi Global Warming
  • Chandra Aditama (Univ. Sriwijaya), Potensi Hidrokarbon Dalam Bioremediasi tanah Terkontaminasi Minyak Mentah
  • Mochammad Aditya (Univ. Sultan Agung Tirtayasa), Pengawas Penegakan Hukum Berbasis Masyarakat (Salah Satu Wujud Kepedulian Masyarakat Yang Sadar Hukum).
  • Wahyudi Putra (Univ. Bengkulu), Pendidikan Konservasi Melalui Anak Usia Dini Sebagai Upaya Mengatasi Kerusakan Hutan Dalam Jangka Panjang Di Provinsi Bengkulu
  • Tito Tegar (IPB), Pembuatan Kemasan ramah Lingkungan dari Polylactic Acid Berbasis Ubi Kayu (Manihot esculenta).
  • Juliyanti (UNILA), Optimalisasi Potensi Indonesia Sebagai raja Bahan Bakar Nabati (BBN) Dunia.
  • Lucky Ayu Wulandari (Univ. Jambi), Konversi Hutan Taman Nasional Bukit-12 Menjadi Media Pendekatan Gradual Terhadap Upaya Pengubahan Pola Hidup Suku Anak Dalam (Suku Kubu) Jambi.
  • Muhammad Ariansyah (Univ. Sriwijaya), Investasi Portofolio SDM Jangka Panjang Melalui Ibu Rumah Tangga
Regional Semarang:
  •  Hawit Guritno (Univ. Diponegoro), Perlindungan karya cipta kesenian tradisional dari ancaman klaim negara asing berdasarkan UU No. 19 tahun 2002 Tentang Hak Cipta 
  • Nurita Sari Nastiti (Univ. Diponegoro), Patriotism Integrated Edu Kids, suatu metode menumbuhkan sikap patriotisme pada anak usia taman kanak-kanak 
  • Retno Asti Hapsari (Univ. Diponegoro), Ekstrak daun salam (Syzgium polyanthum) sebagai pegobatan demam Tifoid 
  • Soleh Rifai (Univ. Diponegoro), Suaka margasatwa perairan sebagai konservasi bagi ikan endemik air tawar Indonesia yang terancam punah
  • Ahmad Eka Ramadhan(Univ. Diponegoro), Potensi jahe (Zingiber officinale Rosc.) sebagai obat anti kanker 
  • Ivan Frits (Univ. Diponegoro), Penentuan batas wilayah maritim Indonesia untuk mempertahankan kesatuan serta kecintaan terhadap bangsa 
  • Vinsensius Yuris Arthanto (Univ. Atmajaya),   Akuntansi forensik: Sarana mewujudkan Indonesia bebas korupsi
  • Theda Renanita   (Univ. Gadjah Mada), Permainan tradisional, kekayaan bangsa Indonesia untuk perkembangan psikomotorik, kognitif, dan sosial serta sosialisasi nilai pada anak
  • Destiya Imaniar  (Univ. Jend Soedirman), Pengembangan potensi sorgum (Sorghum bicolor L.) sebagai bahan baku Breakfast Cereal yang diperkaya Isolat Protein kedelai dan Betha Karoten
  • Faisal Assegaf (Univ. Jend Soedirman), Prospek produksi Bioetanol bonggol pisang (Musa paradisiacal) menggunakan metode Hidrolis Asam dan Enzimatis
Regional Surabaya:
  • Iska Desmawati (ITS), Konsep Ekowisata: Shorebird School dan Birdwatching dalam Upaya Pelestarian Flora dan Fauna di Pesisir Pantai Wonorejo Surabaya
  • Daniel Christian Tarigan (Univ. Airlangga), " P-PATEN " Sebagai Solusi Permasalahan Pasar Tradisional Agar Mampu Bersaing dengan Modern Ritel di Indonesia
  • Anggi Valentinata G (Univ. Brawijaya), Rejuvenasi Partisipasi Politik Pemuda dalam Mewujudkan Efektivitas Sistem Multi Partai Politik di Indonesia
  • Annisa Laila R Weibo (Univ. Brawijaya), Webio: Teknik Konservasi terpadu dalam Penurunan Bahaya Banjir dan Peningkatan Nutrisi Tanah 
  • Ni Wayan Vira Febriani (Univ. Airlangga), Sari Kedudukan dan Eksistensi Hukum Adat dalam Perkembangan Hukum Nasional
  • Johan Tectona (ITS), Cooked Rice Natural Energyser (CO RI NA GYZER ) Konsep Inovasi Energi Listrik Alternatif yang Ramah Lingkungan
  • Dzata Farahiyah (ITS), Sharing Jaringan Serat Optik sebagai Alternatif yang Efisien serta Keuntungannya Bagi pemerintah, Operator Telekomunikasi dan Masyarakat Indonesia
  • Bobby Cristya Surya (Univ. Brawijaya), Viral Marketing sebagai Stimulator Revolusi Strategi Pemasaran UKM Indonesia untuk Mencapai Keunggulan Daya Bersaing di Era
  • Nurhilal (Univ. Hassanudin), pemanfaatan taurin, Vitamin C da Vitamin E sebagai Antioksidan dalam Penanganan Aterosklerosis pada Perokok
  • Nimas Zahrotul Ayniyah (Univ. Airlangga), Shared Picture Book Reading sebagai Interaksi Extra Text Orang Tua dan Anak dalam Perkembangan Bahasa Usia Dini
Presentasi 10 karya terbaik di tiap Regional dilaksanakan di Kota Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Acara akan digelar mulai 18 - 22 Agustus 2009.  Kita tunggu karya mana saja yang berhasil masuk ke grand final di Jakarta,15-16 Oktober nanti.

Senin, 06 Juni 2011

Naskah Nga-MC-an Pelepasan siswa kelas akhir


Huaaa.. ngantuk dan lapar bangeth rapat hari ini! Tapi ga apalah sambil nunggu adzan maghrib, tapi lambung ko rasanya melintir, rapatnya masih bahas seputar naskah mc, padahal sudah saya buat sedemikian keren ini, untuk bahasa Arabnya dibantu (Mr Risyan) dan English nya dibantu (Mr Andi), mudah-mudahan aja acaranya berjalan lancar, menjadi pelipur rapat-rapat yang lama seperti ini, Mudah-mudahan format wisuda seperti ini menjadi konsep baru dalam acara pelepasan wisuda kelas akhir, yang biasanya untuk beberapa sekolah di kota Bandung identik dengan glamournitas, tapi sekarang konsepnya seperti wisuda setingkat Universitas. Dibikin sakral. Dan hanya prosesi wisuda saja. Dan mudah-mudahan menjadi suatu kenangan dan kebanggaan bagi para siswa terhadap almamaternya. (Mohon doanya yaa.. acaranya 21 JUni 2011 @ gd. Pernikahan Pusdai) mulai rabu melatih 3 siswa sma, smp dan darul hikam international school. Semangathh.. ^_^

SUSUNAN ACARA PELEPASAN SISWA KELAS AKHIR PERGURUAN DARUL HIKAM BANDUNG TAHUN PEMBELAJARAN 2010-2011

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. (diucapkan bersama-sama oleh ketiga MC)
(MC SMP) Asyhaduallaailaahaillalloh wahdahu laa syarikalah wa asyhaduanna muhammadan abduhu warosuluhu.
(Bhs. Indonesia-SMA) Hadirin yang kami hormati, puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi karena karunia dan rahmat-Nyalah kita dapat berkumpul pada hari ini Selasa,  21 Juni 2011 dalam acara “WISUDA PERGURUAN DARUL HIKAM”. (Kata “Wisuda Perguruan Darul Hikam” diucapkan bersama-sama oleh ketiga MC)
1.       (Bhs. Indonesia-SMA) Hadirin yang berbahagia, mari kita sambut prosesi wisuda  Perguruan Darul Hikam (diiringi Hymne Guru oleh paduan suara SMA Darul Hikam). Hadirin dimohon berdiri. (Setelah para pimpinan berada di atas panggung) Hadirin dipersilakan duduk kembali.
2.       (Bhs. Inggris-DHIS) Pembukaan Wisuda Perguruan Darul Hikam oleh Direktur Perguruan Darul Hikam,  Ir. Sodik Mujahid, M.Sc.
3.       (Bhs. Arab-SMP) Pembacaan ayat suci alQuran oleh kader SD Darul Hikam 1.
4.       (Bhs. Indonesia-SMA) Menyanyikan Mars Darul Hikam, hadirin dimohon berdiri. (Setelah selesai lagu) Hadirin dipersilakan duduk kembali.
5.       (Bhs. Inggris-DHIS) Laporan Ketua Pelaksana Wisuda. Kepada yang terhormat Ketua Pelaksana Wisuda Perguruan Darul Hikam, Hj. Mari Marhamah, S.E., kami persilakan.
6.       (Bhs. Arab-SMP) Laporan Penyelenggaraan Pendidikan Darul Hikam. Kepada yang terhormat Direktur Perguruan Darul Hikam, Ir. H. Sodik Mujahid, M.Sc, kami persilakan.
7.       (Bhs. Indonesia-SMA) Pengumuman Siswa Berprestasi akan disampaikan oleh Ibu Wawat Widiarti, S.Pd.
8.       (Bhs. Indonesia-SMA) Pelaksanaan Wisuda siswa SD, SMP, dan SMA Darul Hikam tahun 2011. (Bhs. Inggris-DHIS) Wisudawan dan wisudawati dimohon berdiri. (Bhs. Arab-SMP) Para wisudawan dan wisudawati dipersilakan untuk mengenakan medali yang telah diberikan. (Para Pemanggil bersiap)


a.   Wisudawan dan wisudawati SD Darul Hikam 1. (Petugas memanggil)
b.  (Setelah wisuda siswa SD selesai) (Bhs. Indonesia-SMA) Hadirin yang kami hormati, berikut  lantunan yang manis akan dibawakan oleh paduan suara SMA Darul Hikam, “Terima Kasih Guruku”.
c.   Berikutnya wisudawan dan wisudawati SMP Darul Hikam. (Petugas memanggil)
d.  (Bhs. Inggris -DHIS) Hadirin yang kami hormati, mari kita dengarkan simpony yang indah “Rindu Rasul” yang dipopulerkan oleh Bimbo yang akan dibawakan oleh Paduan Suara SMA Darul Hikam.
e.   Berikutnya wisudawan dan wisudawati SMA Darul Hikam. (Petugas memanggil)
f.    (Bhs. Arab-SMP) Tentu dengan acara wisuda ini setiap kader yang telah menempuh pendidikan di kampus Perguruan Darul Hikam akan menapaki kehidupan yang baru dengan lebih optimis. Maka dari itu, penampilan dari Paduan Suara SMA Darul Hikam, You Raise Me Up, akan mengiringi para kader untuk bangkit dalam meraih mimpi. Hadirin selamat menyaksikan.
9.       (Bhs. Indonesia-SMA) Sambutan Ketua OSIS  SMP Darul Hikam, kepada Saudari Fathia Nur Fatimah kami persilakan.
10.  (Bhs. Inggris-DHIS) Sambutan Alumni Siswa Darul Hikam. Kepada Saudara Satria Nalendra kader SMA Darul Hikam, kami persilakan.
11.  (Bhs. Arab-SMP) Menyanyikan Hymne Darul Hikam. Hadirin dimohon berdiri.
12.  (Bhs. Indonesia-SMA) Penutupan Wisuda Perguruan Darul Hikam oleh Direktur Perguruan Darul Hikam,  Ir. Sodik Mujahid, M.Sc.
13.  (Bhs. Inggris-DHIS) Pembacaan doa dipimpin oleh pengurus Yayasan Darul Hikam Drs. H. Yan Suchyar Syafei, kami persilakan.
14.  (Bhs. Arab-SMP) Prosesi wisuda Perguruan Darul Hikam akan meninggalkan tempat upacara. Hadirin dimohon berdiri.
(Bhs. Indonesia-SMA) Demikianlah pelaksanaan acara wisuda Perguruan Darul Hikam tahun 2011. Kami atas nama Perguruan Darul Hikam mengucapkan selamat jalan kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Sukses selalu dan jagalah nama baik almamater Darul Hikam dengan tetap berakhlak mulia dan berprestasi tinggi. Wabillaahitaufik walhidayah wassalamualaikum wr.wb. (diucapkan bersama-sama oleh ketiga MC)
                                                                                                                                     

Minggu, 05 Juni 2011

Guguritan

G U G U R I T A N

Wangenan

Guguritan téh mangrupa karya sastra winangun puisi heubeul. Kauger pisan ku guru wilangan (jumlah engang dina saban padalisan), guru lagu (sora dina tungtung padalisan), guru gatra (jumlah padalisan dina unggal pada).
Guguritan gedé patalina jeung sastra lagu. Di masarakat Sunda, guguritan téh sok ditarembangkeun. Materi seni sora nu réa patalina jeung guguritan di antarana tembang wawacan, Cianjuran, Cigawiran, Ciawian, gending karesmén, sétra karesmén, beluk, jeung sawatara upacara adat. Para ahli miyakin pisan yén lalaguan nu sumberna tina pupuh téh mangrupa karancagéan seniman Sunda. Dina harti, pupuhna mah bisa jadi kiriman ti Mataram, tapi ana kudu jadi lagu mah éstuning karancagéan seniman Sunda baé. Lebah dieu mah katangén pisan dina Cianjuran, Ciawian, Cigawiran, jeung beluk téa. Éta lalaguan nu aya dina materi seni nu bieu mangrupa hasil kréasi pituin urang Sunda. Indikatorna, lagu-lagu nu mindeng kapireng dina Cianjuran, Cigawiran, Ciawian, beluk di Jawa mah éstu henteu aya.
Upamana baé, dina Cianjuran, lagu-lagu nu maké pupuh Dangdanggula (nu di Jawa mah teu aya) di antarana aya Goyong, Pagerageung, Bayubud, Malihwarni, Budaya, Kéntar Cisaat, Kéntar Ajun, Sekardénta, Bogoh Teu Sapikir, Pangauban, Purbalingga, Pajeg, Erang Barong, Talutur, Adumanis, jeung sajabana.
Dina pupuh Sinom aya Téjamantri, Liwung, Jemplang Cidadap, Lor-loran, Garutan, Mangu-mangu, Cirebonan, Kapati-pati, Sedih Asih, Samagaha Pikir, Sekargambir, Kaleleban, Sabéngbatan, Sumedangan, Pegat Duriat, Rengganis, Lampuyangan, Sinom Madenda, Madendasari, Panyalahan, jeung sajabana.
Dina pupuh Asmarandana aya Kaléon, Rajamantri, Jemplang Karang, Jemplang Sérang, Jemplang Pangantén, Jemplang Pamirig, Wani-wani, Mupu Kembang, Cinta Waas, Kumoléang, Udan Iris, Eros, Kulu-kulu Barat, Asmarandana Madenda, jeung sajabana.
Dina pupuh Kinanti aya Kunasari, Payo, Jemplang Titi, Jemplang Ceurik, Ligar, Randegan, Kinanti Layar, Udan Mas, Nandasa, Sungkeman, jeung sajabana.
Gelarna guguritan di masarakat Sunda (sakumaha cék Ayip Rosidi, 1966:55) sabada dieréh ku Mataram dina abad XVII. Guguritan téh wangun karyana; kotrétan tina kedaling rasa, idé, pikiran, atawa kereteg batin. Upama dipapandékeun mah, éta karya nu mangrupa kekedalan idé, pikiran, kereteg batin, ditandéanana ku (diéksprésikeun dina) hiji wadah. Éta wadah téh ngaranna pupuh. Ari wadah nu disebut pupuh téa, dina sastra Sunda aya 17. Dina buku Lima Abad Sastra Sunda (Geger Sunten, 2000:562), pupuh Lambang jeung pupuh Ladrang lain kiriman ti Mataram, tapi geus nyampak di Sunda ti saméméhna. Sedengkeun pupuh nu cenah kiriman ti Mataram téa nyaéta Kinanti, Asmarandana, Sinom, Dangdanggula, Pucung, Maskumambang, Magatru, Mijil, Wirangrong, Pangkur, Durma, Gambuh, Balakbak, Jurudemung, jeung Gurisa.
Gambaran ngeunaan karakter jeung pasipatan eusi guguritan dina pupuh katangén pisan dina naskah wawacan. Dina wawacan mah, saban adegan atawa bagian bisa digambarkeun maké karakter pupuh dumasar kana suasana jeung dialog tokoh. Suasana gumbira bisa digambarkeun ku pupuh sinom, suasana kingkin bisa digambarkeun ku pupuh Kinanti, suasana agung jeung waas bisa digambarkeun ku pupuh Dangdanggula, suasana perang bisa digambarkeun ku pupuh Durma, jeung sajabana.
Dina Cianjuran mah éta karakter pupuh téh sakapeung sok jadi leungit. Pangna kitu téh duméh dina Cianjuran mah, jengléngan karakter téh geus henteu tukuh deui kana paménta pupuh, tapi tuhuna kana paménta lagu. Upamana, guguritan pupuh Sinom dina lagu ‘Kapati-pati’ geus henteu némbongkeun deui karakter nu hégar, tapi éstuning sedih kapati-pati. Ilikan rumpaka lagu ‘Kapati-pati’ di handap ieu:

Hayang ceurik jejeritan
sing tarik maratan langit
cua ku lampah sorangan
sok hayang nu lain tanding
sakapeung abdi mikir
hoyong gaduh élmu ngapung
si pengkuh tangtu beunang
dijingjing diguwang-gawing
rék diteundeun dina méga pangluhurna

Ditilik tina jejrna mah, éta rumpaka lagu ‘Kapati-pati’ nu digurit dina pupuh Sinom henteu némbongkeun karakter hégar atawa gumbira cara cék paménta karakter pupuh. Pon kitu deui rumpaka ‘Bogoh Teu Sapikir’ nu digurit dina pupuh Dangdanggula éstuning geus henteu deui némbongkeun karakter agung atawa gagah, tapi éstuning kanyenyerian. Geura urang ilikan:

Pajar manéh bogoh teu sapikir
geuning bohong ieu mah sulaya
nu puguh ngahudang jéngkél
geuning jungjunan kitu
kalah jangji réwuan kali
nanging taya buktina
éstu palsu wungkul
teu ngémutan ka payunna
manusa mah sok keuna ku owah gingsir
teu jaya salamina

Guguritan dina Sastra

Hirup kumbuhna guguritan dina widang sastra tepi ka kiwari masih kénéh hirup kalawan hurip. Dina sawatara media basa Sunda kayaning Manglé, Galura, Sunda Midang, jeung Cupumanik mindeng katangén midang. Mimindengna, éta guguritan téh istilahna disilih ku dangding. Padahal, upama nilik wangun jeung eusina mah, antara guguritan jeung dangding éstu taya bédana.
Dina buku “Jamparing Hariring” karya Dedy Windyagiri dijudulan kumpulan dangding. Sedengkeun dina “Guguritan Munggah Haji” karya Yus Rusyana dijudulan kumpulan guguritan. Bet padahal, boh “Jamparing Hariring” boh “Guguritan Munggah Haji” midangkeun karya satra puisi nu maké aturan pupuh. Dina sajudulna rata-rata diwangun ku tilu tepi ka genep pada.
Can kapaluruh kalawan gemet, naha ti iraha wangun karya puisi nu maké aturan pupuh dibéré istilah ‘dangding’. Dina awal abad XX, wangun puisi nu maké aturan pupuh geus prah disebut guguritan. Éta guguritan téh dina sajudulna henteu diwangun ukur ku tilu tepi ka genep pada cara dina dangding kaayeunakeun, tapi diwangun ku mangwelas atawa mangpuluh pada. Upamana baé ‘Guguritan Laut Kidul’ karya R. Ece Majid, ‘Rusdi jeung Misnem’ karya Rd. Djajawiredja, ‘Pépéling’ karya R. Bratawijaya, atawa ‘Kaduhung Pipisahan’ karya MA Salmun.
Guguritan gedé patalina jeung dunya tembang. Ku kituna, sakumaha nu kungsi didadarkeun ku Enip Sukanda (dini hiji riungan DAMAS), dina nganggit guguritan ilaharna nu nulisna pareng ngotrétkeun guguritan téh sok bari humariring; najan henteu sina nyoara, pasti dina haténa éta nu nulis guguritan téh milu ngalagu.
Bisa jadi tina éta tésis Enip Sukanda, muncul hipotésis yén henteu salawasna panyajak (nu sok nulis puisi winangun sajak) mahér lebah ngotrétkeun guguritan. Hal ieu gedé patalina jeung aturan lagu dina dunya tembang. Sawatara sastrawan nu sok katangén mindeng nulis guguritan di antarana Wahyu Wibisana, Yus Rusyana, RAF, Dedy Windyagiri, Apung SW, Godi Suwarna, jeung Etti RS.

Padika Guguritan
Ku ahli karawitan Atik Sopandi mah, lebah ngarucat padalisan téh ngahaja dibéré pager sangkan henteu jauh katambias. Da enya, upama katambias téa mah, sok matak ngalantur lebah ngunikeun wirahma lagu dina sapadalisanana téh. Geura, kapan cék Atik mah ngarucat padalisan atawa urang sebut baé yusun pedotan (dina nangtukeun wirahma angkatan) téh aya élmuna:
- anu saengang, disebutna angkat huta. Contona kecap duh, leuh, da, jst.
- anu dua engan, disebutna angkat atyukta. Contona kecap moal, naha, abdi, jst.
- anu tilu engang, disebutna angkat madiama. Contona jungjunan, kamari, hiliwir, mamaras, jst.
- anu opat engang, disebutna angkat patista. Contona harianeun, kaleleban, Siliwangi, Pajajaran, Dayeuh Garut, jst.
Nilik kana patokan nu éta mah, ngarucat atawa nyokot ‘wirahma angkatan’ nu sok matak ngaganggu kana ngalagenana wirahma téh di antarana nu saengang atawa angkat huta téa. Upamana /Duh Siliwangi nu arum/. Enya, lebah ngudag dalapan engang mah éta ungkara téh kacida pisan nyumponan kana pasaratan. Ngan hanjakal lebah diunikeun sina jadi galindeng lagu mah kana bakal titatarajongna.
Nu sok matak teu genah digalindengkeun téh deuih ngarucat nu dalapan engang sina jadi 5 (lima) engang mimiti (wirahma angkatan) jeung 3 (tilu) engang pamungkas (wirahma pungkasan). Upamana cara dina ungkara /éstu kajurung ku laku/. Éta ungkara téh najan enya dalapan engang, tapi wirahma angkatanana diwangun ku lima engang (fraseu ‘éstu kajurung’). Dina henteu lima engang gé, urang sebut waé wirahma angkatanana diwangun ku dua engang (kecap ‘éstu’). Tapi, éta kecap ‘éstu’ nu dua engang téh, ana dikantétkeun kana kecap ‘kajurung’ (3 engang) jadi matak kagok ngagalindengkeunana.
Anu matak titatarajong pisan mah lebah nyusun ungkara padalisan nu dalapan engang diwangun ku wirahma angkatan nu maké pola dua engang, tapi ditéma ku kekecapan sapandeurieunana nu opat engang. Komo leuwih mah! Cara dina ungkara /éstu susuganan pisan/.
Ngaruntuykeun kecap nu dua engang jeung opat engang dina wirahma angkatan dina lebah ngalagu mah matak jadi ngaruksak harti. Ungkara /éstu susuganan pisan/ upama dilarapkeun kana lagu mah ilaharna bakal pegat lebah ketukan kaopat. Ku kituna, cék paménta lagu mah, ungkara nu bieu téh bakal jadi /éstu susu--ganan pisan/.
Lebah ngaracik rumpaka sangka henteu matak kagok, di antarana henteu maké pola 2-3-3, atawa 2-4-2, atawa 1-2-3-2, atawa 5-3, atawa 3-5.
Pola 2-3-3 di antarana cara nu kapanggih dina ungkara /Bandung sosoca Pasundan/, /tartib raresik beresih/, /betah néangan bubutuh/, /lamun kapetik ayeuna/, /muga Pasundan raharja/, /mawur luhureun péngkolan/, /reumbay cimata ngalengis/, /ngajak ngamanglé harepan/, /layung sapayung salangit/, /layung hayangeun nyaangan/, /hayang nitipkeun kamelang/, /anu nyangkalk wadagna/, /cunduk nyumponan panyaur/, jeung saterusna.
Pola 2-4-2 di antarana cara dina ungkara /malar dipiheueuh deui/, /sugan dipicenah batur/, /matak marojéngja rasa/, /urang dilepatkeun béntang/, /bulan disarungan wanci/, /sawér dipayungan langit/, /bengis ngabedahkeun getih/, /taya nu ngupahan sedih/, /liwung katalimbeng gandrung/, /asa nu kapungkur jangji/, /meungpeun diharurum liwung/, /rikat nyalampeurkeun deui/, /nu di Tamansari téa/, /sedih ngarep-ngarep ngijih/, /dina hiliwirna angina/, /rikat nyalampeurkeun mobil/, jeung saterusna.
Pola 1-2-3-2 di antarana cara nu kapanggih dina ungkara /rék ngejat kaleugeut asih/, /rék cicing kacugak nyeri/, /teu kersa dihalik-halik/, /di luar kawasa hayang/, /cik wanci sing
welas asih/, /nu aya tukangeun aya/, /da jalan sorangeun urang/, / da sasat paparin Allah/, /da leumpang mamawa seja/, /bet jadi galindeng éndah/, /ngan sidik katitih jurit/, /ka ditu nyélékét deui/, /nu nyumput nyingkahan bahla/, /jeung saterusna.
Pola 5-3 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /dikalangkangan ku bolay/, /diceungceurikan ku langit/, /nu dipisirik ku langit/, /di pasampangan papisah/, /teu diwidian ku angin/, /kanyenyerian ditundung/, /dibebetahna ku Koni/, /rék dibalangkeun ka wétan/, /mun ngudag-ngudag ka mana/, /rék barang-geureuh teu wani/, /cék nu narangtung di tukang/, /ditarajéan ku lamun/, jeung saterusna.
Pola 3-5 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /kumaha misahkeunana/, /ka bumi mandalawangi/, jeung saterusna.
Pola ungkara nu diala tina sawatara dangding bieu di antarana ungkara anu leuwih hadé ‘dipertimbangkeun’ deui. Henteu kurang henteu bangreung ieuh, da sidik ari lebah nyusun diksina mah éstu genah tur murwakanti, kawantu meunang milih para ahli téa. Ngan basa kudu diwadahan kana lagu (tembang), éta ungkara nu bieu téh éstu karasa matak kagokna. Dipaksakeun téa mah moal henteu kana bakal ‘nandasa’ pedotan, atawa matak ‘nyiksa’ kana wirahma.
Tangtu, bakal karasa séjén deui upama nyusun ungkara anu henteu matak kagok ditembangkeun. Demi pola ungkara anu henteu matak kagok ditembangkeun téh di antarana anu 4-4, atawa anu 4-2-2, atawa anu 2-2-4, atawa anu 2-2-2-2, atawa sugan anu 3-2-3. Asana upama ungkara maké pola nu kitu, lebah medot mah moal teuing manggih kagejed.
Pola 4-4 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /Pajajaran kaleleban/, //ngaharéwos dedemitan/, /lelembutan kumalayang/, /sumalindung na jajantung/, /teuteuleuman kokojayan/, /pileuleuyan salamina/, /pangharepan narémbongan/, /teungteuingeun nganyenyeri/, /teungteuingeun teu muntangan/, jeung saterusna.
Pola 4-2-2 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /balaréa mengkek irung/, /Cikapundung nujang ngidul/, /Ciakpundung meulah Bandung/, /sésélékét mipir pipir/, /icikibung suka seuri/, /saréréa muru waktu/, /disusurup malar payus/, /dibélaan hudang isuk, /lalangséna ipis pisan/, /Citraresmi deudeuh teuing/, /kaniaya kama ratih/, /ngaharéwos ngajak sindang/, /pileuleuyan tungtung imut/, /pileuleuyan tungtung lagu/, /satemenna Anjeun Tunggal/, /manembrana ganti taun/, /ngagupayan nangtang jurit/, /ngawawaas diri abdi/, jeung saterusna.
Pola 2-2--4 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /runtah buruk bilatungan/, /sering nyelang kokojayan/, /oyag ranjang rerekétan/, /matak lingsir katumbiri/, /nitis galih sanubari/, /hujan getih lalambaran/, /daun awi tingarulang/, /siga anu ngagupayan/, geuning parna balukarna/, /peurah nyaksrak sumarambah/, /gering nangtung ngalanglayung/, /angen rayug tutunggulan/, /horéng angina ngagelebug/, /buah kawung kapiati/, /moal pegat pangharepan/, /naha rasa kawisaya/, /naha tineung kumalayang/, jeung saterusna.
Pola 3-2-3 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /tadina leutik saeutik/, /kacipta oyag ranjangna/ jajantung asa didudut/, /mayakpak kembang sawarga/, /laksana urang ngajadi/, /sajeungkal embung paanggang/, /ngamanglé béntang baranang/, /dirungkup ipis kulambu/, /udageun lebah mumungang/, /lungkawing lamping nangtawing/, /sosoca dayeuh pakuan/, /
Pola 2-2-2-2 di antarana cara nu kabaca dina ungkara /madhab papat ilang sari/, /waktos aki nuju alit/, /aya patung badak putih/, /patung badak nitah surti/, /geuning sanggem abdi tadi/ naha sumping tengah peuting/, /rungsing pikir samar cabak/, /pulas dunya pulas rasa/, /liwung neuteup lawang gintung/, /dayeuh suwung ngidung usum/, /mugi pareng tepang deui/, /enung nilaralam lahir/, /naha lunta mapag kala/, /payung agung lingkup nutup/, jeung saterusna.
Dina ngotrétkeun ungkara maké pola nu bieu mah asana bakal anggang kana pedotan nu kagok. Ku kitu téh deuih bakal genah nembangkeunana, moal réa rereged pikeun ngaderes wirahmana. Mana komo upama éta pola téh disusun ku kekecapan nu kacida puitis tur murwakanti. Geura urang cutat salah sahiji pada tina dangding ‘Duriat Pegat di Bubat’ beunang Déddy Windyagiri:

Sosoca dayeuh Pakuan
buah ati Siliwangi
sésétra talaga réna
Citraresmi deudeuh teuing
nu seungit lir malati
nu arum ngungkulan tanjung
horéng gupay salira
waktos nilar lawang kori
sulur lisan: miang biheung deui mulang

Dina padalisan kahiji, pola ungkara nu dipaké 2-3-2, dina padalisan kadua 2-2-4, padalisan katilu 3-3-2, padalisan kaopat 4-2-2, padalisan kalmia 3-4, padalisan kagenep 3-3-2, padalisan katujuh 4-3, padalisan kadalapan 2-2-2-2, padalisan kasalapan (4)-2-2-2-2.

Saules Pupuh Dangdanggula

Pupuh Dangdanggula mah réa pancarakénna. Éta pancarakén téh éstu henteu bisa kitu baé pikeun disinglar disieuh-sieuh. Balikanan disieuh-sieuh, éta pancarakén téh bakal matak ngahudang ‘mamala’. Ari mamalana, nu bakal langsung kapanggih mah, nyaéta ku henteu genahna lebah ditembangkeun.
Perkara genah jeung henteuna nembangkeun pupuh Dangdanggula urang sina nyuméndér kana kabutuh tembang (lagam) Cianjuran. Dina éta tembang Cianjuran mah, lebah ngunikeun pupuh Dangdanggula téh éstu geus mibanda ‘patokan’ nu baku. Méh kabéh lagu nu maké pupuh Dangdanggula dina tembang Cianjuran mibanda struktur atawa formula atawa rangka lagu nu sarua.
Urang tengetan hiji pada dina pupuh Dangdanggula beunang Déddy Windyagiri nu dicutat tina dangding ‘Mamala Kamanala’:

Mung temahna mayeng kapiéling
liwung gandrung kabandang kagémbang
teu répéh diupah-apéh
sakapeung asa linglung
asa peteng poékeun batin
duka kedah kumaha
wuwuh nguntun éwuh
ringrang hariwang longkéwang
boa-boa jadi panyuat panyakit
lenglengan kaleleban

Cék paménta lagu, éta pupuh Dangdanggula nu dina sapadana diwangun ku 10 (sapuluh) padalisan téh bakal dirucat kana 3 (tilu) bagian, nyaéta angkatan lagu, heuleutan lagu, jeung pungkasan lagu.
Ari nu disebut angkatan lagu téh nyaéta tilu padalisan munggaran, ditetenggeran ku padalisan kahiji /Mung temahna mayeng kapiéling/ tepi ka padalisan katilu /teu répéh diupah-apéh/. Heuleutan lagu ngawengku padalisan kaopat /sakapeung asa linglung/ tepi ka padalisan katujuh /wuwuh nguntun éwuh/. Sedengkeun nu disebut pungkasan lagu ngawengku padalisan kadalapan /ringrang hariwang longkéwang/ tepi ka padalisan kasapuluh /lenglengan kaleleban//.
Jadi upama dirucat dumasar paménta lagu mah, éta rumpaka dangding téh bakal jadi:
Angkatan lagu : Mung temahna mayeng kapiéling
liwung gandrung kabandang kagémbang
teu répéh diupah-apéh

Heuleutan lagu : sakapeung asa linglung
asa peteng poékeun batin
duka kedah kumaha
wuwuh nguntun éwuh

Pungkasan lagu : ringrang hariwang longkéwang
boa-boa jadi panyuat panyakit
lenglengan kaleleban

Minangka conto, urang bandingkeun jeung rumpaka lagu ‘Bayubud’ nu ditembangkeun ku Dadang Sulaéman tina albeum ‘Guguritan Laut Kidul’ produksi Dasentra taun 1981.

Pajajaran tilas Siliwangi
wawangina nu kari ayeuna
ayeuna nya dayeuh Bogor
batutulisna kantun
kantun liwung jaradi pikir
mikir nu disadana
henteu surud liwung
teuteuleuman kokojayan
di Ciliwung nunjang ngidul Siliwangi
nuus di Pamoyanan

Upama dirucat téa mah lagu ‘Bayubud’ nu ditembangkeun ku juru tembang Dadang Sulaéman, bet kacida akurna, angkatan lagu téh eureunna dina tungtung kecap ‘Bogor’ dina padalisan katilu /ayeuna nya dayeuh Bogor/. Ti dinya juru tembang Dadang Sulaéman ngarénghap heula bangun nu nyalsé. Saterusna nuluykeun deui kana bagian heuleutan lagu dimimitian tina fraseu ‘batu tulisna’ dina padalisan kaopat /batu tulisna kantun/ sarta éta heuleutan lagu téh ditutugkeun dina kecap ‘liwung’ tina padalisan katujuh /henteu surud liwung/. Ti dinya juru tembang dadang gé ngarénghap deui nyalsé pikeun neruskeun kana padalisan satuluyna nu geus kaasup kana bagian pungkasan lagu nu dimimitan tina kecap ‘teuteuleuman’ dina padalisan kadalapan /teuteuleuman kokojayan/ tug parat tepi ka tutugna dina kecap ‘Pamoyanan’ dina padalisan kasapuluh /nuus di Pamoyanan/.
Dina bagian angkatan lagu gé, méméh néma kana bagian heuleutan lagu, juru tembang Dadang Sulaéman kungsi sababaraha kali ngarénghap. Ngan henteu panjang jeung nyalsé cara lebah mindahkeun bagian ti angkatan lagu ka heuleutan lagu. Dina rénghap padalisan tina hiji bagian mah, rénghap juru tembang Dadang téh éstuning sakolépat pisan. Ti dinya néma deui kana kalimah lagu saterusna.
Tah, dina tembang Cianjuran mah, ngarénghap nu sakolépatan kitu téh ilaharna disebut ‘medot’ (kecap barangna ‘pedotan’; pikeun kaperluan ieu tulisan, unina ‘medot’ téh urang tandaan heula ku garis miring hiji ‘/’). Saterusna pikeun nandaan rénghap nyalsé dina saban pindah bagian, boh tina angkatan lagu kana heuleutan lagu, atawa tina heuleutan lagu kana pungkasan lagu, urang tandaan ku garis miring dua ‘//’. Jadi, lagu ‘Bayubud’ nu ditembangkeun ku Dadang Sulaéman téh ana digambarkeun sanggeus ditandaan maké gambar ‘medot’ jeung maké gambar ‘pindah bagian’ téh bakal jadi kieu:

Pajajaran/ tilas Siliwangi/
wawangina/ nu kari ayeuna/
ayeuna nya dayeuh Bogor//
batutulisna kantun/
kantun liwung jaradi pikir/
mikir nu disadana/
henteu surud liwung//
teuteuleuman/ kokojayan
di Ciliwung/ nunjang ngidul/ Siliwangi/
nuus/ di Pamo/yanan//

Ngeunaan papasingan jadi tilu bagian téa (angkatan lagu, heuleutan lagu, jeung pungkasan lagu) tangtu neueul kana ‘téma séntral’ saban bagian nu kudu nembrak. Dina bagian angkatan lagu kudu aya téma séntral nu ‘ngawalan’ pikeun diteruskeun deui dina bagian heuleutan lagu. Sarta téma séntral nu nyangkaruk dina bagian heuleutan lagu kudu jadi pamiangan pikeun diteruskeun dina bagian pungkasan lagu.
Dina rumpaka Déddy di luhur (nu diala tina ‘Mamala Kamanala’), bagian kahiji atawa angkatan laguna mibanda beungkeutan téma ngeunaan ‘balukar tina manteng kapiéling tepi ka hésé diupah-apéh’ sakumaha nu kagambar dina ungkara /Mung temahna mayeng kapiéling/ liwung gandrung kabandang kagémbang/ teu répéh diupah-apéh//. Dina bagian kadua atawa dina heuleutan lagu, téma séntralna téh kurang leuwih ‘manggih éwuh bongan tina rasa manteng kapiéling téa, tepi ka dunya gé mani asa poék’ sakumaha nu kagambar dina ungkara /sakapeung asa linglung/ asa peteng poékeun batin/ duka kedah kumaha/ wuwuh nungtun éwuh//. Atuh dina pungkasan lagu, téma séntralna kurang leuwih ‘boa enya keur kaleleban tina kaéwuh duméh manteng miéling ka si manéhna téa’ sakumaha nu kagambar dina ungkara /ringrang hariwang longkéwang/ boa-boa jadi panyuat panyakit/ lenglengan kaleleban//.
Pon kitu deui dina rumpaka lagu ‘Bayubud’ nu ditembangkeun ku Dadang Sulaéman téa. Dina angkatan lagu nyangkaruk téma ‘Pajajaran nu wangi téh kiwari mah jadi dayeuh Bogor’ sakumaha nu kagambar dina ungkara /Pajajaran tilas Siliwangi/ wawangina nu kari ayeuna/ ayeuna nya dayeuh Bogor//.
Dina heuleutan lagu, nyangkaruk téma ‘batu tulis minangka titular Prabu Siliwang teu weléh matak liwung sabab teu kabuki jeung teu kakobét baé naon pihartieunana tepi ka kudu angger liwung’ sakumaha nu kagambar dina ungkara /batu tulisna kantun/ kantun liwung jaradi pikir/ mikir nu disadana/ henteu surud liwung//.
Atuh dina pungkasan lagu, téma nu nyangkaruk téh kurang leuwih ‘upama teuteuleuman di Ciliwung béh kiduleun Bogor, terusna téh bakal hanjat sarta nuus di Pamoyanan (Pamoyanan téh hiji tempat di wewengkon Cianjur, baheulana kungsi jadi puseur dayeuh Cianjur)’ sakumaha nu kagambar dina ungkara /teuteuleuman kokojayan/ di Ciliwung nungjang ngidul Siliwangi/ nuus di Pamoyanan//.
Boh dina rumpaka beunang Déddy boh dina rumpaka ‘Guguritan Laut Kidul’ nu ditembangkeun ku Dadang Sulaéman téa, jenggléngan téma dina saban bagian téh éstu mibanda korélasi (hubungan) nu raket jeung bagian séjénna. Sarta éta téma téh eunteup dina bagian nu tilu téa, angkatan lagu (padalisan ka-1 tepi ka padalisan ka-3), heuleutan lagu (padalisan ka-4 tepi ka padalisan ka-7), jeung pungkasan lagu (padalisan ka-8 tepi ka-10).

Guguritan di Masarakat

Hirup kumbuhna guguritan di masarakat gedé pisan patalina jeung dunya tembang. Tembang Cianjuran, Cigawiran, jeung Ciawian ilaharna maké guguritan minangka rumpaka keur tembangkeuneunana.
Dina Cigawiran kacatet aya lagu ‘Sinom Ela-éla’ maké pupuh Sinom, ‘Gandrungan’ maké pupuh Sinom, jeung lagu ‘Patrol’ maké pupuh Kinanti. Dina Ciawian aya lagu ‘Kinanti Pamanis’, ‘Sinom Pamanis’, jeung ‘Dangdanggula Pamanis’. Ari dina Cianjuran, sakumaha nu kungsi dicatet ku Apung SW aya kurang leuwih 250 lagu nu maké rumpaka guguritan. Dina wanda memeniran, kungsi kapireng aya lagu ‘Udan Mas’ dina pupuh Kinanti jeung ‘Langendria’ dina pupuh Sinom.
Tina wanda tembang Sunda, ukur Cianjuran baé anu katangén éksis tur hirup kalawan subur di masarakat. Hal ieu téh pangpangna mah duméh Cianjuran réa institusi anu ngokolakeunana. Dina widang pembinaan, méh di saban daérah mibanda sanggar atawa pakempelan tembang Sunda (PTS) nu sok ngayakeun latihan Cianjuran. Lian ti sanggar atawa PTS, institusi sakola jeung paguron luhur (SMKN 10 jeung STSI Bandung) mibanda mata pangajaran jeung mata kuliah Cianjuran. Atuh di sawatara dinas (Dinas Pendidikan, Pekerjaan Umum, Pariwisata dan Kebudayaan, Pengelolaan Sumber Daya Air), sok mindeng katangén jeung kapireng aya latihan rutin Cianjuran.
Dina widang pasanggiri, aya Daya Mahasiswa Sunda (Daya Mahasiswa), KORPRI, jeung RRI méh saban dua taun sakali mindeng ngayakeun Pasanggiri Cianjuran. Ari dina widang pengembangan, sawatara lembaga panalungtikan kayaning Dasentra (Daya Seni Tradisi), DAMAS, UPT Kesenian Unpad, Panglawungan Tembang Sunda sok mindeng ngayakeun diskusi atawa riungan resmi medar bagbagan Cianjuran. Ku gambaran bieu, materi Cianjuran katangén leuwih kapiara jeung katalingakeun batan Ciawian jeung Cigawiran.
Utamana dina Cianjuran téa, guguritan téh kacida pisan nebana. Nya tina Cianjuran pisan, ngarunday deui kana materi seni gending karesmén, sétra karesmén, upacara ngaras, siraman, sawér, buka pintu nu teu weléh deukeut deuheus jeung guguritan geusan tembangkeuneun.***

Daftar Pustaka
Padmini, Diah. Jaladri Tingtrim. 2000. Pustaka Jaya Jakarta
Rosidi, Ajip. 1966. Kesusastraan Sunda Dewasa Ini.Tjupumanik Bandung
- Ngalanglang Kasusastraan Sunda.1983.Pustaka Jaya Jakarta
- Pancakaki.1996.Girimukti Pasaka Bandung
SW, Apung. Unak-anik Tembang Sunda. 2005. Yayasa Pusat Kebudayaan Bandung
Wibisana, Wahyu,dkk. Lima Abad Sastra Sunda. 2000. Geger Sunten Bandung
- Riring-riring Ciawaking. 1998. Geger Sunten Bandung
Windyagiri, Dedy. Jamparing Hariring. 1992. Geger Sunten Bandung

(bahan UAS semester 4, disave ti ayeuna bisi janten mahasiswa s2 ngapalkeun teu sesah Nuhun kang dian Hendrayana, punten dicopy paste ka blog abi)